Warga Dua Desa Ini Dilarang Menikah, Nekat Melanggar Siap-siap Cerai! Fakta atau Mitos?


 Warga Desa Sedah dan Desa Pintu, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur konon katanya enggak bisa menikah. Ada cerita turun menurun yang masih dipegang teguh oleh warga di dua desa tersebut. 

Para warga desa sepaham, jika memaksakan untuk menikah, maka hubungan rumah tangganya tidak akan bertahan lama atau akan mendatangkan malapetaka.

Larangan menikah itu bermula dari kisah jejaka asal Dusun Ngadiro, Desa Pintu, yang bernama Setrowijoyo. Setrowijoyo kala itu berniat menikahi putri cantik dari Desa Sedah yang bernama Sri Tanjung.

Namun, Bhatara Warno, bapak Sri Tanjung, tidak merestui karena calon menantunya itu dikenal berwatak pemarah, kejam, dan keras. Ketika anak gadisnya dilamar oleh Setrowijoyo, Bhatara Warno tidak berani menolak lamaran tersebut karena merasa kalah kesaktian. 

Untuk itu, Bhatara Warno memberikan syarat yang memberatkan bagi Setrowijoyo. Syaratnya adalah minta dibuatkan taman yang diapit oleh dua buah gunung, lumpang dan alu (alat tradisional untuk menumbuk), minta payung pengantin, dan paku untuk memaku gunung. 

Ternyata ketujuh syarat yang berat tersebut disanggupi oleh Setrowijoyo. Namun jika syarat tersebut enggak dijalankan maka pernikahan enggak akan dilakukan. 

"Apabila ketujuh syarat terpenuhi dalam waktu semalam, maka Setrowijoyo boleh menikahi Sri Tanjung. Karena begitu tergila-gila pada Sri Tanjung syarat yang begitu berat disanggupi," ujar Imam Basuki, Kepala Dusun Ngadiro. 

Setrowijoyo pun memanggil bangsa jin untuk meminta bantuan mengerjakan semua syarat yang diberikan sang calon mertua. Benar saja, dalam semalam ia berhasil memenuhi syarat pitu yang diminta Bhatara Warno. 

Setrowijoyo memberi kabar ke Bhatara Warno bahwa ketujuh syarat tersebut telah selesai. Kemudian datanglah Bhatara Warno diiringi dengan keluarga dan tetangganya dan meneliti satu persatu ketujuh syarat tersebut. Tapi Bhatara Warno mengatakan bahwa ini hanyalah permainan anak kecil saja, karena terbuat dari batu saja.

 Merasa dipermalukan, maka Setrowijoyo marah dan menanyakan sekali lagi Boleh tidaknya anaknya di nikahi. Bhatara warno menanyakan sendiri pada sri tanjung, tetapi  Sri Tanjung tidak ada jawaban. Maka Setrowijoyo pun marah. 

Berubahlah Sri Tanjung menjadi batu dan dibuang ke wilayah Gunung Gawe. Alu, payung, dan lainnya dibuang semua. Payung dan paku dibuang digunung kemudian dikenal dengan Gunung Sepaku. Sedangkan Bhatara Warno sendiri hilang dan tidak bisa kembali kemudian meninggal dunia dan disusul oleh Setrowijoyo.

"Dari kisah itu antara warga Desa Pintu dan Desa Sedah tidak bisa bersatu. Ada yang menikah, namun akhirnya keduanya bercerai,“ imbuh Imam

SOURCE : INDOZONE 

Post a Comment

Previous Post Next Post